Jumat, 21 Agustus 2009
Just Leave me alone !??! i need time to thinking.
Tanpa kita sadari ucapan tersebut pernah dan bahkan mungkin sering terucap jika kita sedang berada dalam situasi pertengkaran. Ucapan yang menyiratkan sikap menarik diri dari situasi yang membebani kita. Istilah “me-time” sendiri sudah bukan lagi hal baru bagi kalian semua. Bahwa setiap wanita memerlukan waktu untuk dirinya sendiri. Ada beberapa orang yang sering merasa emosi (negatif), murung, dan gampang tersinggung ketika mereka terlalu banyak tekanan. Sehingga, amat penting untuk seseorang mengambil waktu untuk menyendiri dan menikmati waktu untuk bersama dirinya sendiri.
Waktu untuk menyendiri bisa berbeda-beda. Ada yang menikmati waktu sendirinya dengan berbelanja pakaian untuk dirinya sendiri. Ada yang menikmati waktu sendirinya dengan menulis buku harian, ada yang dengan berolahraga, atau dengan merawat tubuh di spa. Apa pun kegiatan Anda untuk menyendiri, pastikan itu adalah hal yang membuat Anda senang dan membuat Anda kembali berenergi.
Menyendiri tidak berarti bahwa Anda harus menjauhkan diri dari kehidupan sosial. Hal ini mempunyai arti, Anda sebaiknya bisa menyisihkan waktu, bukan menyisakan waktu untuk menemukan inti diri Anda dari segala rutinitas dan kesibukan. Menghabiskan waktu untuk diri sendiri akan amat bermanfaat bagi kesehatan mental dan kebahagiaan diri. Ini alasannya:
Penemuan diri. Menghabiskan waktu untuk diri sendiri memberikan Anda kesempatan untuk menemukan hal-hal tentang diri Anda sendiri yang sebelumnya belum Anda ketahui. Selama kita bertumbuh dan menjalani hidup, kita belajar bagaimana mengenali pribadi orang lain, namun jarang untuk berkenalan mendalam dengan diri kita sendiri, kesukaan kita, apa yang tak kita suka, tanpa adanya kehadiran orang lain.
Rasa berdikari dan meningkatkan kepercayaan diri. Menyendiri dan nyaman untuk menghabiskan waktu sendiri memberikan Anda kemudahan untuk lebih merasa nyaman dengan kemandirian. Melatih diri untuk mengambil keputusan, dan meningkatkan kepercayaan diri, yang kemudian membantu Anda meresapi berbagai aspek dalam hidup, termasuk ketika Anda sedang bersama orang lain.
Tak perlu berkompromi. Sering, kita harus berkompromi, harus mengikuti apa kemauan orang lain juga ketika sedang bersama orang lain. Kita biasanya harus mengikuti kemauan orang lain, seperti saat memutuskan tempat makan, apa yang akan ditonton, atau baju apa yang akan dibeli. Menghabiskan waktu sendiri memberikan Anda kemampuan untuk memanjakan diri dengan hal-hal yang Anda inginkan dan cintai, tanpa perlu banyak negosiasi.
Meremajakan jiwa. Melepaskan diri dari orang-orang lain memberikan kesempatan untuk Anda beristirahat dari banyaknya hal-hal yang mesti dikerjakan, dan membuat Anda mampu melakukan apa yang ingin Anda kerjakan. Anda tidak lagi perlu memikirkan kepentingan orang-orang lain.
Perspektif yang lebih segar. Waktu untuk menyendiri memberikan kesempatan untuk membersihkan pikiran dan menyortir pikiran-pikiran Anda, sekaligus memberikan otak Anda untuk memikirkan hal lain. Ini memberikan Anda kemerdekaan untuk berpikir untuk diri sendiri, tidak lagi didikte dan dipengaruhi pendapat orang lain. Anda juga bisa merefleksikan tentang apa yang penting dalam hidup Anda dan apa yang Anda rasakan tentang situasi sehari-hari yang mesti dibereskan.
Apresiasi lebih tinggi terhadap orang yang Anda cintai. Menyendiri bisa memberikan Anda kesempatan untuk lebih menghargai waktu yang Anda lewati bersama orang lain. Setelah Anda menghabiskan waktu untuk diri sendiri, Anda akan merasakan adanya keseimbangan antara diri sendiri dan orang lain.
Bila Anda sulit menemukan waktu untuk menyendiri, cobalah untuk mulai dengan dosis kecil. Bahkan jika itu hanya 5 menit. Dari waktu ke waktu, cobalah untuk menambahkan waktu yang Anda habiskan untuk diri sendiri. Misalnya, dengan pergi belanja pakaian sendiri di sore hari. Atau pergi ke tempat spa sendiri. Atau mungkin dengan melakukan meditasi yoga sendiri. Atau untuk dosis kecilnya, percepat menyelesaikan tugas-tugas, pulang, dan menonton DVD sendiri. Cintai diri sendiri dengan mulai menyisihkan waktu untuk Anda sendiri.
Sumber : Berbagai sumber
Label: Psikologi
Kamis, 20 Agustus 2009

Senin pagi aku terbangun karena suara teriakan seorang ayah pada anaknya. Tadinya kupikir suara itu berasal dari telivisi, tapi setelah aku perhatikan ternyata bukan.
Ternyata suara ayah yang sedang “membantu” anaknya untuk belajar…weleh..weleh..
Aku jadi heran begitukah cara mengajar dan mendidik anak supaya tidak malas belajar ?
Dengan teriakan yang mengatakan “ begitu saja gak bisa ?!!” bisanya Cuma nyontek ?!!” Bodoh !!
Ckckck..teriakan yang bisa membangunkan semua warga pikirku
Untung suamiku segera mengingatkan orang tersebut.
Kemarahan seorang ayah tersebut tidak tepat. Apalagi disertai caci maki. Bisa dikatakan kekerasan secara verbal. Kekerasan baik verbal dan fisik yang dialami anak akan terekam dalam ingatan anak akan terus membekas dan berpengaruh buruk bagi sang anak dalam jangka panjang.
Mengutip ucapan seorang psikolog dari Jagadnita, Diah P “Marah merupakan hal yang normal, tapi kemarahan yang tidak tepat bisa memengaruhi kondisi psikis dan fisik anak,”
Saat ini Banyak kejadian kekerasan dalam rumah tangga kita temui dan dengar , dan sudah banyak korban juga yang berjatuhan. Saat televisi memberitakan tentang peristiwa KDRT, sering kali kita berkomentar “koq ada ya orang tua sejahat itu?” menganiaya anak, bahkan tak segan-segan membunuh..ckckck..sudah gilakah dunia ini..
Anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Wah bahaya juga kalo anak mempunyai keinginan untuk bunuh diri..
Dari temuan UNICEF, ada dua faktor penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak. Pertama, stres dan kemiskinan. Kemudian rumah tangga yang kerap diwarnai kekerasan antara suami dan istri.
Beberapa orang tua mempunyai alibi bahwa apa yang mereka lakukan (baca : kekerasan) untuk mendisiplinkan anak. Duhhh berat juga kalau cara mendisiplinkannya dengan cara seperti itu. Apa nggak bisa memakai cara yang lebih halus dan efisien untuk diterapkan dalam mendidik anak. Tindakan seperti mencubit, menjewer lebih baik tidak dilakukan. Oleh karena itu orang tua harus pandai mencari tehnik dalam mendisplinkan anak , dijamin kenakalan anak akan dapat teratasi. Yaaa.. mungkin contohnya jika anak susah belajar, iming-imingin dengan pemberian reward jika anak mendapat ranking. Namun masa dimana anak rendah diri karena tidak mendapat ranking, disaat seperti itulah peran orang tua sebagai penyemangat, apapun itu bentuknya. Meski hanya ucapan.
Pada anak balita mereka memiliki kecenderungan meniru apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar. So be carefully with everything you said, and what are you doing especially when your child besides you. Sedangkan pada anak usia SD, cara penerapan pola didikan orang tua akan lebih baik orang tua mengulang kata, tindakan secara terus menerus dan tidak bosan untuk melakukannya, dengan begitu anak akan mengingatnya. Tentunya hal yang dilakukan dan diucapkan baik adanya.
Komunikasi nonverbal yang baik dilakukan oleh orang tua saat berkomunikasi dengan anak mereka adalah dengan cara merendahkan tubuh sejajar dengan anak, kontak mata dengan anak, suara dan sikap yang lembut akan efektif bagi anak. Sikap tersebut bertujuan supaya anak merasa bahwa perkataan mereka kita dengar dan kita perhatikan dengan kata lain anak tidak merasa diabaikan
Seringkali kekerasan pada anak terjadi karena imbas permasalahan yang terjadi pada orang tua mereka. Jika hal ini terjadi sangat baik adanya jika kedua orang tua menyelesaikan permasalahan antara mereka terlebih dulu hingga tuntas, jangan lakukan penyelesaian masalah didepan anak. Hal ini menghindarkan jika salah satu (ayah / ibu) mengucap kata-kata kasar / bersikap kasar.
Kedekatan antara orang tua dan anak sebaik-baiknya dijaga dengan hangat dan harmonis, sehingga akan tercipta komunikasi dua arah. Orang tua ada baiknya tidak semata-mata mengejar ego mereka dengan memaksakan keinginan mereka, orang tua harus mampu bersikap mengayomi, mendengar, mengerti, dan memahami keinginan anak dan yang terpenting adalah pengarahan. Dengan begitu anak pun merasa secure, percaya diri dan comfort menghadapi lingkungan keluarga dan masyarakat.
Label: Psikologi





